Tag: Kopi Sianida

Fakta yang Terungkap saat Kasus Kopi Sianida

Fakta yang Terungkap saat Kasus Kopi Sianida – Lelaki yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Hukum itu menyampaikan tentang hasil slot olympus profiling Jessica yaitu proses pengumpulan informasi dan data tentang seseorang dengan tujuan untuk memahami karakteristik, kepribadian, preferensi, perilaku, hingga kecenderungan mereka. Menurutnya, hasil profiling membuat tim Jaksa Penuntut Umum semakin yakin bahwa Jessica Wongso adalah pelaku, selain bukti-bukti yang berhasil mereka kumpulkan selama penyelidikan.

Kecenderungan untuk Bunuh Diri

Beberapa kasus kriminal yang melibatkan Jessica Wongso di Australia adalah ancaman untuk melakukan bunuh diri. Hal tersebut dilaporkan oleh Patrick O’Connor. Dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang disebutkan oleh Deddy Corbuzier di podcast, Jessica Wongso pernah melakukan percobaan bunuh diri sampai empat kali menggunakan racun.

Terlibat 14 Kasus Kriminal di Australia

Diungkapkan oleh Prof Eddy, Jessica Wongso terlibat 14 kasus kriminal di Australia. Fakta ini sebelumnya telah dibeberkan oleh anggota kepolisian negara bagian New South Wales, Australia, John Torres. Salah satu kasus yang melibatkan Jessica antara lain mengendarai slot garansi mobil dalam pengaruh alkohol. Kasus-kasus lainnya berhubungan dengan mantan kekasihnya yang bernama Patrick O’Connor, di mana Jessica dilaporkan sering mengancamnya.

Ancam Membunuh Bosnya

Masih berhubungan dengan racun, Jessica Wongso disebutkan pernah mengancam untuk membunuh bosnya. Jessica menyampaikannya pada Kristie, temannya di Australia. “(Jessica bilang), ‘Saya tahu itu cara yang tepat untuk membunuh dan sebagainya.’ Karena itu tadi, berdasarkan digital forensik, dia memang sudah men-search bagaimana sianida itu dan dia sudah menonton film, jadi dia sudah paham sebetulnya,” kata Prof Eddy.

Menangis saat Berhadapan dengan Ronny Nitibaskara

Prof Eddy menceritakan perilaku Jessica Wongso saat fisiognomi (ahli membaca gestur) Profesor Ronny Nitibaskara dihadirkan sebagai saksi di persidangan. Jessica yang sebelumnya selalu tenang, langsung menangis.

“Selama persidangan, Jessica itu tenang, dia senyum-senyum. Tapi coba perhatikan, coba lihat baik-baik, ketika Profesor Ronny Nitibaskara memberikan kesaksian, Jessica kan nangis, dan itu sempat diprotes oleh kuasa hukum,” ungkapnya.

 Tidak Mempan Lie Detector

Prof Eddy menjelaskan kondisi psikologis Jessica Wongso berdasarkan keterangan Profesor Ronny Nitibaskara dan slot terbaru dokter Nathalie selaku psikiater. Dia menyebutkan tentang skala psikologis manusia yang berada di level 1 sampai 20.

“Jessica ini berada di skala 19 atau berapa ya, jadi hampir mendekati sempurna. Ini yang kemudian disimpulkan oleh profesor Ronny, bahwa orang seperti ini, dideteksi dengan lie detector secanggih apapun, tidak akan terbukti,” ujarnya.

5 Fakta Pembunuhan Mirna Salihin

5 Fakta Pembunuhan Mirna Salihin – Kasus pembunuhan Mirna Salihin kembali menjadi perbincangan karena dokumenter viral Netflix yang berjudul “Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso”. Dokumenter itu membahas jalannya sidang Jessica yang dihukum karena kasus kopi sianida. “Ice Cold” menuai pro dan kontra di kalangan publik, dan cukup banyak juga orang-orang yang secara terbuka membela Jessica Wongso yang dituduh menghabisi nyawa sahabatnya sendiri.

Jessica Menutupi Kopi

Faktanya adalah Jessica Wongso memang benar menutupi gelas-gelas minuman dengan belanjaannya. Hal itu juga diperagakan di persidangan ketika Jessica menyusun-nyusun belanjaannya di atas meja keluaran sgp sehingga memblokir pandangan ke gelas kopi Mirna dari kamera CCTV sisi depan (CCTV sisi belakang Jessica terhalang tanaman, ada tanaman indoor di belakang tempat duduk tempat kejadian). Sejak kopi tersajikan hingga sebelum Mirna datang, hanya Jessica yang berada di dekat kopi itu. Tapi tak hanya itu, investigator ternyata sampai menelusuri toko tempat Jessica belanja. Hasilnya, ada sesuatu yang ganjil dari isi tas belanja pelaku.

Jessica memang sempat belanja dulu ke toko di Grand Indonesia, sehingga ia datang ke kafe dengan sejumlah paper bag. Berdasarkan penelusuran, pelaku ternyata hanya membeli tiga buah sabun saja, akan tetapi ia meminta supaya barang-barang itu dimasukan ke tas belanja terpisah.

Celana Panjang Hilang

Pada dokumenter “Ice Cold”, Otto Hasibuan sempat mempertanyakan dari mana Jessica mengambil racunnya. Apakah dari celana, tas, dan seterusnya. Sutradara “Ice Cold”, Rob Sixsmith, malah tidak menjelaskan bahwa celana panjang Jessica justru hilang. Celana itu dipakai Jessica saat insiden kematian Mirna terjadi. Meski hilang, fakta bahwa celana panjang Jessica hilang tetap disorot oleh polisi.

“Celananya itu robek pas dia mau bantu Mirna. Saat pulang, pembantunya bilang, ‘Non ini robek, enggak bisa dijahit lagi. Buang saja yah’. Ya Jessica bilang, ‘Ya sudah’. Kan sudah tidak bisa dipakai,” kata Yudi, Rabu 20 Januari 2016. Rekaman CCTV memperlihatkan togel singapore sebaliknya. Bahwa Hani yang sibuk membantu Mirna. Hal itu juga tercatat di putusan Mahkamah Agung.

 Tak Ada Racun di Tubuh Mirna

Salah satu klaim dari kuasa hukum Jessica Wongso adalah tidak ada racun di tubuh Mirna berdasarkan temuan Laboratorium Kriminalistik Polri pada 70 menit usai Mirna meninggal. Mahkamah Agung dengan tegas menyebut kesimpulan itu bertentangan dengan nalar hukum yang benar dan logis, sebab Laboratorium Kriminalistik Polri menemukan bahwa Mirna memang meninggal karena racun.

“secara sembrono Terdakwa/Penasihat Hukum Terdakwa berani menyimpulkan bahwa Korban Wayan Mirna Salihin meninggal dunia bukan karena Natrium Sianida, padahal hasil pemeriksaan Laboratorium Kriminalistik Polri tersebut justru menyimpulkan bahwa Korban Wayan Mirna Salihin meninggal dunia karena Natrium Sianida,” tulis pihak Mahkamah Agung.

“Kasasi Terdakwa/Penasihat Hukum Terdakwa yang mendalilkan bahwa Korban Wayan Mirna Salihin meninggal dunia bukan karena minum racun Sianida dengan alasan berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik Polri tidak ditemukan racun Sianida di tubuh Korban Wayan Mirna Salihin sudah terbantahkan sepenuhnya, karena tidak sesuai dengan fakta hukum yang benar yang terungkap di persidangan dan bertentangan dengan nalar hukum yang benar dan logis,” demikian bunyi putusan MA.

Jessica Tidak Punya Motif

Pertanyaan pertama adalah soal motif. Ada anggapan bahwa Jessica tidak memiliki motif untuk membunuh Mirna. Pada dokumenter “Ice Cold”, Otto Hasibuan (pengacara Jessica Wongso) mengaku tidak percaya bahwa Jessica tega membunuh Mirna hanya karena Mirna menasihati Jessica tentang masalah pacar. Namun, masalahnya tidak sesederhana itu. Dua sahabat dari Jessica dan Mirna berkata bahwa benar Mirna menasihati Jessica agar putus dari pacarnya. Akan tetapi, Mirna menyebut pacar Jessica sebagai orang yang kasar, tidak modal, dan pemakai narkoba.

“Korban Mirna menasihati Terdakwa agar putus saja dengan pacarnya yang suka kasar dan pemakai narkoba, dengan menyatakan buat apa pacaran dengan orang yang tidak baik dan tidak modal. Ucapan Korban Mirna tersebut ternyata membuat Terdakwa marah serta sakit hati sehingga Terdakwa memutuskan komunikasi dengan Korban Mirna,” demikian bunyi penjelasan Mahkamah Agung. Pada awal dokumenter “Ice Cold”, ayah dari Mirna juga berkata bahwa putrinya sering berani blak-blakan ketika berbicara.

Yang Lain Sehat Usai Minum Sianida

Argumen lain dari tim kuasa hukum Jessica Wongso adalah kenapa ada sejumlah orang lain yang meminum kopi milik Mirna, tetapi mereka sehat-sehat saja. Tiga orang yang mencicipi adalah Hani (sahabat Jessica-Mirna) dan dua staf Olivier Cafe: Marwan Amir dan Devi Chrisnawati Siagian.

Mirna sebenarnya juga menyodorkan Vietnamese Iced Coffee (VIC) tersebut ke Jessica karena rasanya pahit, tetapi Jessica menolak, sementara Hani mau mencicipi kopi sahabatnya. Mahkamah Agung menegaskan bahwa orang-orang yang mencicipi kopi Mirna mengakui ada rasa yang aneh.

Dua staf Olivier Cafe diketahui langsung melepeh dan mencuci mulut mereka usai mencicipi kopi Mirna. Hal itu juga disebut di “Ice Cold” dan bahkan jelas ada rekaman CCTV-nya. Mereka juga mengaku pusing dan mual. Sementara, Mahkamah Agung menyorot bahwa Hani juga merasa pusing dan disuruh dokter meminum obat anti-racun.

“Saksi Marwan Amir mengeluarkan rasa pahit seperti terbakar dengan cara meludah dan muntah beberapa kali dan kumur-kumur dengan air kran. Sedangkan Saksi Boon Juwita alias Hani setelah slot gacor mencicipi merasa pusing dan diberikan resep oleh dokter untuk membeli obat untuk membuang racun,” tulis putusan Mahkamah Agung.